Tuesday, February 2, 2010

Mirza Anakku

Sejak suamiku ditempatkan bekerja di kota lain (300 Km dari kot kami), aku membuat kesibukan sendiri. Aku membuka kedai kecil di depan rumahku. Mulai deari jual beras, sabun dan segala kebutuhan rumah tangga. Anakku semata wayang, bernama Mirza selalu saja duduk di dekatku, bila pulang sekolah dan bila dia tidak latihan basket. Dia sangat manja kepadalu. Maklumlah anak semata wayangku. Dia berusia 16 tahun dan duduk di SMA kelas 1. Sejak saat itu, kami tidak memiliki anak lagi. Aku tak tahu kenapa/ Dokter keluarga mengatakan tidak ada masalah. Juga ketika kami pindah ke dokter lain, jawabannya sama. Ada tujuh dokter yang kami datangi, mengatakan, tidak ada masalah pada diriku dan suamiku.

Anakku Mirza selalu embawa buku-buku pelajarannya dan mengerjakannya di warung kami. Sesekali dia ikut melayani membeli yang tak seberapa, karean warung kami juga hanya selingan saja. Gaji suamiku lebih dari cuku buat kehidupan kami.
Mirza sangat senang meletakkan kepalanya di pahaku dan senang bila aku mengelus-elus kepalanya dengan belaian lembutku, sembari dia membaca majalah atau apa saja.
Malam seusai makan dan siap-siap, kami tidur ke kamarku. Sudah menjadi kebiasaan, kalau Mirza selalu tidur bersamaku, bila ayahnya pergi ke luar kota sejak kecil. Kini ayahnya dua minggu sekali baru pulang dari tempat kerjanya, bahkan mau sekalisebulan, jika kesibukan luar biasa.
Malam itu, hujan sangat lebat sekali. Entah kenapa, tanpa tanda-tanda hujan turun lebat. Karena selama ini gerah, aku suka tidur pakai daster tipis, bahkan sering tidak memakai BH. Mirza juga suka tidur mamakai celana pendek saja yang pinggannya berkaret. Malam itu, tiba-tiba saja udara menjadi dingin. Angin berhenbus dari kisi-kisi jendela. Aku menutupu tubuhku dan tubuh Mirza dengan selimut putih yang selama ini hampir tak pernah kami pakai.
Karena dingin Mirza memeluk tubuhku, sekedar mendapatkan kehangatan. Kubiarkan saja Mirza memeluk tubuhku dan aku memejamkan mataku. Lama kelamaan, aku merasakan kancing dasterku dilepas perlahan-lahan oleh Mirza. Aku tak mau menepiskannya, menjaga jangan sampai dia malu. Aku membiarkannya, mau tau apa yang dia perbuat padaku. Perlahan tangan Mirza mengelus-elus tetekku. Aku merasa geli, tapi aku tahankan. Kini tetekku sudah keluar dari dasterku. Kurasakan pentil tetekku sudah diisap-isap oleh Mirza. Aku merasa geli, tapi tetap membiarkannya. Mirza terus mengisapnya dan kini sudah berganti ke tetepk yang lainnya. Tangan kanannya sudah pula mengelus-elus pepekku dari luar. Lambat laun tangannya sudah masuk dari bagian atas celanaku. Kuintip, mata Mirza sudah tertutup. Mungkin Mirza sedang bermimpi, pikirku. Biarlah dia menikmati mimpinya.
Perlahan, tangannya menguakkan celana dalamku. Setelah celana dalamku sampai menjelang lututku, kaki kanannya memaksa celana dalamku turun ke bawah. Aku mendengar ada seperti suara sobek di celanaku itu. Tapi kubiarkan saja, karean masih banyak celana yang lain. Kini celana dalamku sudah lepas dari tubuhku. Tangan Mirza terus mengelus-elus jembutku. Selimut sudah terkuak kini. Dan aku melihat Mirza sudah tidak memakai celana lagi. AKu jelas melihat kontol anakku sudah mengeras. Mirza terus mengisap-isap tetekku. Aku sudah berair. Paginaku sudah basah. Aku tak tahu bagaimana melarang Mirza untuk tidak meneruskannya. Tapi aku takut dia tersinggung dan terbangun dari mimpinya.
Jari tangannya sudah berada di liang pepekku. Dia mengelus-elus pepekku dan memutar-mutar tangannya di bagian klentitku. Aku semakin gelisah dan tak tau berbuat apa-apa lagi.
Aku memeluk Mirza dan kutekan kuat-kuat kepalanya ke dadakan, dimana dalam mulutnyas masih ada pentil tetekku.
Tiba-tiba aku merasakan ada benda menelusup ke liang pepekku. entahlah. Apakah aku sadar atau tidak, yang jelas aku menikmati benda itu. Lama kelamaan benda itu menelusup semakin dalam. Aku juga tidak tahu, tiba-tiba Mirza sudah berada di atas tubuhku. Dia menekan sesuatu hingga benda itu memasuku lubang pepekku. Aku diam saja, Perlahan kuintip dengan membuka mataku setipis mungkin. Kulihat mata Mirza tertutup rapat. Dan...bleeezzzz...kontol itu memenuhi ruang pepekku.
Aku merasakan, kontol itu bergerak maju mundur. Mirza memeluk tubuhku dengan erat. Dia menggamit kedua belah tanganku dan meletakkannya di punggungnya agar aku memeluknya. AKu biarkan saja dengan lemas kedua tanganku, tidak memeluknya. Tubuhku semakin berguncang digenjot dari atas. Dalam usiaku yang 39 tahun, aku merasakan tubuh Mirza terlalu berat. Nafasku sesak. Tapi untuk meresponsnya aku takut, kalau Mirza terbangun dari mimpinya. Kubiarkan saja dia menggenjot tubuhku yang juga sudah merasakan kenikmatan itu.
Mirza meniumi leherku dan mengisap-isap bibirku. Lidahnya mulai bermain di mulutku. Dia masukkan lidah itu sepanhjang mungkin ke mulutku. Aku ingin mengisap lidah itu, tapi aku membiarkannya saja. Lalu....Aku mencintai mama. Aku ingin memuaskan mama, bisiknya ke telingaku. Aku diam saja. Lalu croooottt..croootttt, aku merasakan sperma panas membasahi liang pepekku. Mirza terus menekat kontolnya dalam liangku dan aku pun....sampai pada puncakku.
Mirza perlahan menjadi lemas dan terkulai dia kembali tidur di sisiku. Kami tertidur pulas.
Besok paginya, Mirza mandi seperti biasa. Saat mau berangkat ke sekolah dengan lembut dia berbisik ke telingaku.
"Aku menyayangi dan mencintaimu mama..."
Aku diam saja. Dia bertanya, apakah aku tidak menyayanginya? Aku katakan aku menyayanginya dengan sepenuh hatiku dan tidak ada manusia yang lebih kusayangi melebihi dari dirinya.
"Kalau begitu, nanti malam Mirza akan puasi mama lagi," katanya sembari meninggalkanku. Aku baru sadar, kalau Mirza ternyata tidak bermimpi, tapi dia sadar sepenuhnya, apa yang akmi lakukan tadi malam. Aku tercenung, tapi semuanya sudah menjadi bubur, mau bilang apa lagi. Walau sebenarnya aku tidak menginginkan kejadian itu. AKu baru sadar, Kalau Mirza bukan bayi lagi, tapi dia sudah dewasa sepenuhnya.
Malamnya, Mirza sudah tidur tidak memakai celana dalam lagi. Cukup celana pendek berkaret saja. Saat aku terbaring, Mirza terang-terangan meminta bersetubuh denganku. Aku diam saja tak menjawab pertanyaannya. Aku pura-pura marah, walau sejak tadi sebenarnya aku sudah menginginkannya. Sebagai seorang ibu aku malu sebenarnya. Mirza langsung saja mencumbuku. Dia mengecup bibirku dan mempermainkan lidahnya, sementara tanganya melepas kancing BH ku. Kini dia mengisap-isap tetekku. Sembari itu, kembali dia membuka celana dalamku dan mempermainkan tangannya di sana. AKu sudah tak dapat membohongi diriku. AKu tak mau tersiksa. AKu mulai merespons-nya perlahan agar tak ketahuan. Mirza melepas mulutnya dari tetekku. Dengan cepat dia kangkangkan kedua kakiku dan emnjilati pepekku. Aku menggelinjang. Pepekku benar-benar basah. Aku merasakan nikmat luar biasa. Akhirnya tanpa kusadari;
"tolong mama, Mir..'" kataku lirih. Aku memintanya memasukkan batangnya ke pepekku. Dengan cepat Mirza memasukkannya dan kami saling memberi respons sampai kami sama-sama puas. Itu kami lakukan setiap tiga kali seminggu, bila ayahn Mirza berada di luar kota. Dua bulan berikutnya, aku periksa ke dokter. Dokter mengatakan, aku hamil. Betapa terkejutnya aku. Ketika hal ini kusampaikan kepada Mirza dia senang bukan main. Ketika aku mengatakan akan digugurkan, Mirza mengancamku akan membunuhku, bila anaknya digugurkan.
Malam itu kulaporkan kehamilanku kepada suamiku dengan gaya aku sangat gembira. Ketika aku menelpon Mirza ada di sampingku. Suamiku juga ternyata sangat gembira mendengar aku hamil. Beberepa bulan kemudian, aku melahirkan. Seorang anak perempuan. Beratnya 3,2 Kg dengan panjang 51 Cm. Putih dan mulus. Aku melahirkan dalam usia 40 tahun.
Anak itu sehat walafiat. TIga tahun kemudian saat usiaku berumur 44 tahunhj, aku melahirkan anak kedua dengan jalan operasi, sekali gus mengangkat peranakanku, karean aku tak boleh melahirkan lagi, demi nyawaku. Mirza sangat senang sekali, mendengar peranakanku diangkat.
"Berarti mama tak akan hamil lagi kan? Kita sudah boleh bebas...'"katanya penuh manja. Mirza sudah kuliahmengambil D3 Akuntansi di sebuah perguruan tinggi ternama. Biar cepat kerja katanya. Nanti dia akan membiayai kedua anaknya dan anaku juga.
Ternyata, anak yang dilahirkan dengan hubungan inces bisa menjadi cacat. Ternyata tak benar. Kedua anak-anakku sekaligus cucuku itu, adalah anak yang sehat dan pintar. Anak Mirrza pertama (cucu pertamaku) bernama Ningsih dan kedua bernama Wulan. Ningsih sudah kelas Nol kecil, centil dan pintar serta cantik. Wulan ikut-ikutan sekolah di [;ay group, juga pintar dabn centik.
Suamiku sudah pensiun. Dia memilih tinggal diperkebunan tehnya seluas 5 hektar menghabiskan masa tuanya dengan bersenang-senang dan pulang sekali seminggu, karean kebun teh itu tidak terlalu jauh dari rumah kami

COMMENTS :

Don't Spam Here

0 comments to “Mirza Anakku”

Post a Comment

 

Copyright © 2009 Fresh Themes Gallery | Vhoris. All Rights Reserved. Powered by Blogger and Distributed by [Pencinta Incest] .